SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Di sebuah sudut sederhana di Kelurahan Talang Betutu, keresahan seorang warga bernama Rusli justru menyalakan bara perubahan.
Setiap hari, matanya menyaksikan sisa-sisa gorengan. Minyak hitam pekat dan remahan tepung yang lengket di tanah tercecer di sepanjang jalan, mengalir bersama hujan, menebar aroma tak sedap di udara.
Dari kegelisahan itulah muncul secercah ide: bisakah limbah ini disulap menjadi berkah?
Pertanyaan sederhana itu mengantarkan Rusli pada perjalanan yang tak hanya menyinggung soal lingkungan, tapi juga soal kemanusiaan.
Ia mulai mengolah limbah gorengan menjadi sesuatu yang lebih bernilai biosolar dan biodiesel, sumber energi baru yang lahir dari sisa dapur.

Langkah kecil ini kemudian menggugah PT Pertamina Patra Niaga untuk turun tangan. Melalui program CSR, Pertamina memberikan dukungan penuh. Mulai dari pembinaan, alat pengolahan, hingga fasilitas produksi bagi warga Talang Betutu.
Dampaknya terasa nyata, limbah organik yang dulu menumpuk kini berkurang drastis, sungai pun mulai bernafas lebih lega.
Bahkan, sisa ampas pengolahan kini diolah menjadi pakan ternak bergizi yang memperpanjang umur manfaat dari setiap tetes minyak bekas. Tak ada yang terbuang, semua kembali menjadi kehidupan.
Lebih dari sekadar solusi ekonomi, inisiatif ini menjadi gerakan kecil menuju masa depan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan. Di mana limbah tak lagi dianggap sisa, melainkan asa yang dihidupkan kembali.
Kisah inspiratif itu kemudian berlanjut dengan langkah konkret.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin II meluncurkan sebuah program pemberdayaan bertajuk UMKM “Pakan Ampas dari Minyak Jelantah (PASTA)-30”, sebuah nama yang kini menjadi simbol harapan bagi warga Talang Betutu.
Nama Langturif itu, sebutan untuk kampung di Talang Betutu. Dalam kampung ini ada beberapa program, dan salah satu yang paling unggul adalah PASTA-30.
Bagi Ketua UMKM PASTA-30, Rusli, perjalanan ini dimulai dari kegelisahan sederhana.
“Awalnya saya resah melihat limbah gorengan berserakan di tempat sampah bahkan sampai tumpah ke jalan. Dari situ saya coba memutar otak, bagaimana caranya agar semua ini bisa jadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Rusli, Jum’at (17/10/2025).
Dari dapur kecilnya, Rusli mulai bereksperimen. Sisa minyak dari gorengan ayam, tahu, getas dan lainnya dikumpulkan dan dimasak hingga menjadi bubur pekat.

Setelah itu, cairan tersebut diputar di spinner untuk memisahkan minyak dan ampasnya. Ampas dijadikan pakan ternak, minyaknya diolah menjadi produk bernilai.
Namun, yang membuat kisah ini kian istimewa bukan hanya inovasinya, melainkan cara Rusli melibatkan mereka yang selama ini sering terlupakan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Bersama tangan-tangan yang dulu mungkin dianggap tak berdaya, Rusli justru menemukan kekuatan baru.
“Kami menyebut pekerja dari Yayasan Bagus Insani Mandiri itu sebagai mitra kerja, bukan ODGJ. Mereka ikut bekerja, dilatih, dan diberdayakan. Semua setara di sini. Alhamdulillah, Pertamina sangat mendukung kami,” ucapnya dengan senyum hangat.
Ia membeberkan, pihak Pertamina memberika bantuan seperti alat spinner, bahan baku, bahkan membeli sebagian limbah gorengan dari warga. Jadi semua pihak bergerak bersama untuk kemajuan UMKM PASTA-30.
“Awalnya kami ambil gratis, tapi setelah tahu ini menghasilkan, mereka mulai minta dibeli. Sekarang kami membeli seharga Rp2.500–Rp3.000 per kilogram,” bebernya.
Dari kerja keras dan inovasi itu, hasilnya tak main-main. Setiap bulan, Rusli dan timnya mampu menghasilkan omzet hingga Rp40 juta dari penjualan pakan ternak berbasis limbah gorengan.
“Untuk ampasnya saja 1 kilogram dijual Rp4.000, sedangkan minyak jelantah yang kami kumpulkan dijual Rp10 ribu per kilogram ke supplier,” tuturnya.
Kini, produk mereka bahkan telah menembus pasar luar provinsi hingga Kalimantan dan Surabaya. Namun Rusli berharap, pembeli lokal juga mulai melirik hasil karya mereka.
“Kami ingin masyarakat Sumsel tahu, bahwa di sini ada minyak jelantah berkualitas yang bisa dijadikan bahan baku biosolar. Kalau ada pembeli dari Palembang, ongkos kirim jadi lebih ringan, dan roda ekonomi bisa berputar di sini sendiri,” jelasnya singkat.
Salah satu pelanggan tetap mereka, Reksi Salim, mengaku merasakan manfaat langsung dari pakan buatan UMKM PASTA-30.
“Awalnya saya kira mereka cuma mengolah minyak jelantah. Tapi setelah coba pakan ternaknya, bebek saya jadi lebih subur dan cepat tumbuh,” katanya.

Selain harganya yang jauh lebih murah, kandungan gizinya pun tinggi.“Kalau di toko-toko harganya bisa dua kali lipat. Tapi di sini cuma Rp4.000 per kilogram, dan hasilnya luar biasa,” imbuhnya.
Dari minyak bekas yang sama, lahir pula inovasi lain yang lembut aromanya, lilin aromaterapi dan pewangi ruangan.
Produk ini digagas oleh para anggota muda PASTA-30, salah satunya Dewi yang dengan tangan kreatifnya mengubah limbah jadi karya seni.
“Awalnya kami memanfaatkan minyak jelantah karena di sini banyak sekali minyak bekas. Dari situ muncul ide untuk membuat lilin aromaterapi,” jawabnya dengan semangat.
Dewi menjelaskan proses pembuatan lilin aromaterapi, minyak jelantah yang dicampur dengan parafin lalu diberi pewarna dari crayon bekas anak-anak.
Setelah itu, ditambahkan aroma esens yang lembut dan menenangkan, sebelum akhirnya dicetak dalam wadah daur ulang dari bank sampah.
“Biasanya kami tambahkan bunga atau daun kering sebagai hiasan agar tampilan lilin lebih cantik dan alami,” jelasnya.
Saat ini, lilin-lilin dijual secara online dan di galeri-galeri pariwisata seperti Kampung Kreatif Sugiwarsih, Proklim, hingga DLHK.
Harga jualnya pun terjangkau, dari Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung ukuran dan wadahnya.
“Kami juga membuat pewangi ruangan dan souvenir pernikahan, bahkan sudah ada pesanan dari Lampung, Bengkulu, dan Jambi,” ungkapnya.
Selain itu, Pertamina juga memberikan tambahan bantuan yakni dengan mendirikan Bank Jelantah.
Bank Jelantah tersebut menjadi salah satu ide yang sangat unik dan sangat bermanfaat terutama bagi warga sekitar.
Dimana, di Bank Jelantah para warga dapat menukarnya dengan berbagai sembako yang nilai harganya telah ditentukan.
Oleh sebab itu, bagi warga yang memiliki minyak jelantah dapat membawanya ke Bank Jelantah. Minyak jelantah dari warga nantinya bisa dipakai untuk menjadi bahan biosolar ataupun untuk menjadi bahan pembuatan lilin aromaterapi.
“Jadi Bank Jelantah itu baru terbentuk sekitar 6 bulan. Jadi masyarakat memberikan minyak Jelantah ke kita dan kita tukar dengan sembako, per kilo itu Rp6.000. Misalkan warga membawa 3 kilogram, nah nanti dihitung saja dan bahan-bahan apa saja yang bisa didapat. Mereka bisa memilih, yang penting harganya sesuai dengan jumlahnya tadi,” terangnya.

“Jadi kita sudah ada link dari grup, saya seketua RT dan grup di Kelurahan. Jadi di setiap RT, warga ngumpul ke RT, nanti RT jualan kita. Jadi dari warga ke RT itu 6.000, dari RT ke kita itu 7.500,” tutupnya.
Sementara itu, Supervisor Receiving Storage and Distribution di AVSM Field Terminal SMB II Palembang, Wachid Siambar Buka menuturkan program ini merupakan bagian dari binaan CSR Pertamina yang mulai berjalan sejak 2023.
Dukungan yang diberikan bukan sekadar materi, tapi juga pendampingan penuh. Mulai dari tahap pengumpulan minyak jelantah, hingga proses produksinya.
“Kami juga memberikan dukungan berupa alat pengolahan seperti spinner, dan membantu pembangunan tempat produksi di bagian belakang lokasi tersebut,” tuturnya saat dibincangi langsung usai meninjau lokasi pengolahan limbah gorengan di hari yang sama.
Namun, di balik semua itu, Wachid menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah keuntungan semata, melainkan dampak lingkungan.
“Faktor ekonomi memang penting, tapi bukan yang utama. Kami fokus pada pemanfaatan limbah rumah tangga agar tidak mencemari lingkungan. Alhamdulillah, masyarakat mendukung penuh dan ikut bekerja keras mengolah limbah ini menjadi produk bernilai,” tegasnya.
Dari tangan-tangan warga dan para mitra kerja (ODGJ binaan), lahirlah beragam produk turunan. Mulai dari pakan ternak, bahan bakar biosolar, hingga lilin aromaterapi yang dapat dijadikan souvenir ramah lingkungan.
Meskipun pengembangan bahan bakar biosolar masih dalam tahap awal, permintaan mulai berdatangan. Artinya, langkah kecil itu telah mulai bergema, membawa Talang Betutu menuju masa depan yang lebih hijau dan mandiri.
“Program ini ada di wilayah ring 1 kami, dan pembinaan sudah dimulai sejak 2023,” tambahnya.
Di tengah hiruk-pikuk Talang Betutu, terselip kisah yang menghangatkan hati. Bukan hanya tentang limbah yang berubah jadi berkah, tapi juga tentang jiwa-jiwa yang perlahan menemukan kembali artinya kehidupan.
“Kebetulan di Kampung Talang Betutu ini ada seorang dokter yang masih aktif di Rumah Sakit Jiwa Palembang. Beliau memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan membangun sebuah yayasan untuk menampung serta membina ODGJ. Nah, kami kemudian memberikan dukungan di situ,” ungkapnya.
Yayasan Bagus Insani Mandiri kebetulan dekat dengan lokasi pengolahan limbah gorengan, ada sekitar 330 ODGJ dirawat dan dibina dengan kasih.
Mereka tidak hanya mendapatkan perawatan, tapi juga pelatihan untuk beraktivitas kembali. Menurut sang dokter, sekitar 80 persen dari mereka kini telah menunjukkan kemajuan.
Kemudian, sebagai bagian dari terapi beberapa di antara mereka mulai dilibatkan dalam proses pengolahan minyak jelantah.
“Biasanya ada sekitar tiga orang yang ikut setiap kali produksi. Kegiatan produksi dilakukan tiga kali seminggu, dan petugas yang dilibatkan akan digilir setiap harinya, tentu dengan pengawasan langsung dari dokter,” jelasnya.
Di sinilah harmoni itu terasa nyata. Antara kepedulian, keberlanjutan, dan kemanusiaan.
Sementara itu, Junior Supervisor HSSE dan GA Pertamina Patra Niaga, Savira menjelaskan bahwa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini tak hanya berfokus pada lingkungan, tapi juga pada pemberdayaan manusia termasuk mereka yang selama ini dianggap “berbeda”.
Savira menjelaskan jika keterlibatan ODGJ dalam program ini melalui proses panjang dan pertimbangan matang.
“Kita pilih mereka yang memang sudah dalam kondisi menuju sehat, baik fisik maupun mental. Maksudnya, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang normalnya dilakukan oleh orang lain,” jelasnya.
Saat ini, program tersebut melibatkan 15 orang, dengan enam pekerja aktif dan tiga di antaranya adalah ODGJ yang telah melalui pelatihan.
“Selain alat spinner, kami juga memberikan pelatihan dan kesempatan bagi masyarakat, termasuk bagi mereka yang masuk kategori ODGJ,” tambah Savira.
Dari kegiatan sederhana ini, lahir rasa percaya diri baru. ODGJ yang dulu diam di sudut ruangan, kini ikut menakar, mengaduk, dan tersenyum saat minyak bekas berubah menjadi produk bernilai.
Sebuah terapi yang bukan hanya menyembuhkan pikiran, tapi juga menghidupkan kembali harga diri.
Bagi Pertamina, program seperti ini bukan sekadar CSR, melainkan cermin filosofi tanggung jawab sosial yang mendalam.
Ia menambahkan, meskipun pengolahan limbah gorengan belum terhubung langsung dengan kegiatan operasional Pertamina, semangat di baliknya tetap sejalan.
“Sebenarnya, untuk prosesnya belum ada keterkaitan langsung dengan Pertamina. Tapi secara tujuan dan latar belakang CSR, inisiatif ini sangat kami dukung. Kami ingin membangun masyarakat yang mandiri dan berpenghasilan dari hasil program tersebut,” lanjutnya.
Pertamina memang berperan di sisi hilir, pada distribusi bahan bakar yang siap jual. Namun, dukungan mereka terhadap masyarakat justru menyentuh akar rumput membangun kemandirian dari sisa yang sering dianggap tak berharga.
“Kalau untuk ide-ide awalnya, sebagian besar dari masyarakat. Kami hanya memfasilitasi, kami memediasi, dan juga mendengarkan ide-ide dari warga lalu bersama-sama membentuk program PASTA-30 ini,” ujarnya.
Talang Betutu pun menjadi pilihan yang tepat. Selain karena wilayahnya termasuk dalam ring 1 Pertamina, kawasan ini juga telah ditetapkan oleh Kecamatan Sukarame sebagai kampung iklim bagian dari program nasional Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK).
“Jadi di sana ada dua program unggulan, salah satunya PASTA-30 yang berdiri sejak 2023. Harapan kami, di tahun 2027 mereka bisa benar-benar mandiri, baik secara pengetahuan maupun penghasilan,” ucapnya.
Di balik kata-kata itu, tersimpan harapan besar agar masyarakat tak hanya menjadi penerima bantuan tetapi juga pencipta solusi bagi lingkungannya sendiri.

Dari tangan-tangan muda yang penuh semangat itu, minyak bekas tak lagi sekadar limbah. Sekarang, justru menjelma menjadi cahaya kecil yang harum dan bernilai, menerangi rumah, dan menyebarkan pesan ‘bahwa setiap sisa masih punya kisah, asal ada hati yang mau mengubahnya.
Dari keresahan seorang warga, lahirlah gerakan sosial yang mengubah wajah kampung. Dari limbah yang dulu dianggap tak berguna, tercipta sumber penghidupan baru. Dan dari jiwa-jiwa yang dulu sunyi, tumbuh harapan yang kini menyala.
UMKM PASTA-30 bukan sekadar program CSR, namun kisah tentang keberanian, kolaborasi, dan kasih. Tentang manusia yang saling mengangkat di tengah keterbatasan.
Talang Betutu kini tak lagi dikenal karena sisa minyaknya, tapi karena semangat warganya yang berhasil mengubah sisa menjadi asa.
Sebuah bukti bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari hati.
Dari satu tetes minyak jelantah, dari satu langkah kecil, dan dari keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin, selama ada kepedulian. (Tia)

Leave a Reply