SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Di Desa Sepang, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Yusmar (42) tersenyum lega saat menceritakan hasil panennya tahun ini. Bukan karena cuaca bersahabat, tapi karena sawahnya kini terlindungi asuransi pertanian. “Kalau gagal panen, kami masih bisa menanam lagi. Ada jaminan dari asuransi,” ujarnya ketika kami berkunjung pada September 2025 lalu.
Ketenangan yang dirasakan Yusmar bukan kebetulan. Ia menjadi bagian dari kelompok petani yang mendapat perlindungan melalui kerja sama antara Kementerian Pertanian dan Indonesia Financial Group (IFG) holding BUMN sektor asuransi dan penjaminan. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya besar IFG dalam memperluas inklusi dan literasi asuransi di Indonesia, agar perlindungan finansial tidak hanya dinikmati segelintir kalangan.
Meski perekonomian Indonesia terus tumbuh, kesadaran terhadap pentingnya asuransi masih tertinggal jauh. Riset IFG Progress mencatat, tingkat inklusi perasuransian nasional tahun 2025 baru mencapai 28,5 persen, sementara literasi keuangan di angka 45,45 persen. Artinya, masih banyak masyarakat yang paham konsep asuransi, tetapi belum memiliki akses atau belum merasa perlu memilikinya.
Melihat kesenjangan itu, IFG tidak berhenti pada kampanye edukasi. Holding BUMN ini mengambil langkah lebih konkret: mengubah pendekatan dari sekadar sosialisasi menjadi intervensi langsung berbasis riset dan kebutuhan masyarakat.
Di bawah payung IFG Progress, edukasi tidak lagi sekadar teori. Program literasi kini diarahkan untuk membangun kesadaran dan kemandirian finansial, khususnya bagi kelompok rentan seperti keluarga muda, pekerja informal, dan pelaku UMKM.
Mereka tidak hanya dikenalkan pada manfaat asuransi, tetapi juga cara menggunakannya untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga. “Edukasi harus mengubah cara pandang. Asuransi bukan beban, melainkan pelindung masa depan,” kata salah satu perwakilan IFG Progress dalam sesi literasi di Palembang.
Pendekatan baru ini menggeser citra lama asuransi sebagai produk mahal menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat.
IFG, bersama anggota holding seperti IFG Life, Jasindo, dan Jasa Raharja Putera, menghadirkan berbagai produk mikro dengan premi rendah dan manfaat luas.
Salah satu yang paling diminati adalah LifeSAVER, produk perlindungan kecelakaan dengan premi mulai Rp25.000 per bulan, dan Third Party Liability (TPL) yang melindungi pemilik kendaraan dari kerugian akibat kecelakaan dengan pihak ketiga. Produk-produk ini dirancang agar mudah diakses dan sesuai daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Langkah ini bukan hanya memperluas jangkauan pasar, tapi juga membuka kesempatan bagi jutaan orang untuk memiliki perlindungan finansial yang sebelumnya sulit dijangkau.
Tonggak penting lainnya adalah kehadiran aplikasi “One by IFG”, sebuah platform digital yang menjadi tulang punggung ekosistem inklusi asuransi terintegrasi.
Lewat aplikasi ini, masyarakat dapat membeli polis, mengajukan klaim dengan unggahan dokumen digital, hingga berkonsultasi daring dengan mitra dokter semua bisa dilakukan dari ponsel. Model ini menghapus hambatan geografis dan administratif, membawa layanan asuransi ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Melalui kerja sama dengan fintech dan aplikasi pembayaran digital, IFG juga menanamkan produk mikro ke dalam ekosistem digital populer, menjadikan asuransi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
IFG tidak hanya berinovasi di sisi layanan, tetapi juga memperkuat fondasi berbasis data. Melalui IFG Progress, perusahaan rutin melakukan riset perilaku keuangan masyarakat untuk memetakan celah literasi dan merancang kebijakan intervensi yang lebih efektif.
Pendekatan berbasis riset inilah yang membedakan IFG dari pola tradisional industri asuransi yang cenderung berorientasi komersial. Setiap kebijakan disusun dengan prinsip Sustainable and Inclusive Growth menyeimbangkan misi sosial dengan keberlanjutan bisnis.
Hasilnya nyata Social Return on Investment (SROI) program Kindness to Progress mencapai 4,99, artinya setiap satu rupiah yang diinvestasikan menghasilkan manfaat sosial hampir lima kali lipat.
Dengan memadukan riset, digitalisasi, dan inovasi produk, IFG menargetkan peningkatan signifikan dalam penetrasi asuransi nasional dalam lima tahun ke depan. Namun bagi IFG, target utama bukan sekadar angka, melainkan perubahan pola pikir.
Bahwa asuransi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi setiap rumah tangga yang ingin masa depannya aman.
“Dengan adanya asuransi, kami merasa lebih berani menghadapi risiko,” kata Yusmar menutup kisahnya. “Sekarang kalau gagal panen, masih ada harapan untuk mulai lagi.”
Melalui langkah nyata dan inovasi berkelanjutan, IFG sedang menulis bab baru dalam sejarah perlindungan finansial Indonesia memastikan bahwa setiap warga, dari kota hingga desa, punya kesempatan yang sama untuk hidup dengan rasa aman.

















