Dosen UIN Ingatkan: Perubahan Nama Mapel Jangan Berhenti di Tataran Simbolik

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG —Rencana pemerintah mengubah mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia” kembali memicu diskusi luas di kalangan akademisi. Banyak pihak menilai langkah tersebut perlu diikuti perubahan nyata di ruang belajar, bukan sekadar penyesuaian istilah.

Di Palembang, akademisi UIN Raden Fatah yang juga pengurus Dewan Kesenian Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, menilai wacana ini sebagai peluang penting untuk menguatkan kembali posisi sastra dalam pendidikan nasional. Menurutnya, keberadaan kata “sastra” pada nama mapel dapat memberikan ruang lebih besar bagi guru dalam mengajarkan karya sastra secara mendalam.

“Perubahan ini memberi legitimasi baru untuk menghidupkan teks sastra, sejarah sastra, hingga penguatan literasi yang selama ini kurang mendapat porsi,” ujarnya saat ditemui, Jumat.

Panji menekankan bahwa sastra memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter generasi muda. Ia menyayangkan kurikulum yang selama bertahun-tahun lebih menampilkan sisi teknis kebahasaan sehingga estetika dan nilai budaya dalam sastra kerap terabaikan.

Menurutnya, penambahan porsi sastra diprediksi memberikan dampak positif bagi kemampuan literasi nasional. Karya-karya seperti puisi, cerpen, hikayat, hingga naskah klasik dapat memperkaya wawasan budaya siswa, sekaligus menumbuhkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis.

Ia juga menilai kebijakan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat fungsi bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan dan pelestari budaya. “Sastra bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara membangun identitas bangsa,” tegasnya.

Meski demikian, Panji mengingatkan bahwa wacana perubahan nama mapel perlu dibarengi kesiapan nyata. Tantangan terbesar, katanya, ada pada kebutuhan guru yang kompeten di bidang sastra serta pembaruan kurikulum yang komprehensif dan tidak setengah-setengah.

Selain itu, ketersediaan sarana pendukung seperti perpustakaan dan bahan bacaan bermutu juga perlu diperkuat. Ia khawatir perubahan nama mapel tanpa dukungan fasilitas dan SDM hanya akan menjadi simbol tanpa arah yang jelas.

Panji menambahkan, jika dikelola dengan serius, kebijakan ini bisa menjadi titik balik kebangkitan literasi sastra di Indonesia. Dengan pelatihan guru, materi ajar yang relevan, dan infrastruktur memadai, ia yakin pendidikan sastra mampu melahirkan generasi yang kreatif, berkarakter, dan memiliki kecintaan kuat terhadap budaya bangsa.

“Ini kesempatan emas bagi siswa untuk mengenal identitas bangsa, mengasah daya kritis, dan menumbuhkan kreativitas. Pendidikan sastra yang kuat akan melahirkan generasi yang cakap berkomunikasi dan bangga dengan bahasa serta sastra Indonesia,” pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *