Kadisdik Selidiki Dugaan Pemukulan Siswi, Kepala SD 150 Tegaskan Tak Ada Kekerasan

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Merespon dugaan pemukulan yang dialami oleh salah satu siswinya hingga mengakibatkan kedua mata memerah, Kepala SDN 150 Palembang, Eka Octa Nugraha mengatakan, bahwa tidak ada kekerasan yang terjadi di sekolah, baik pihak sekolah maupun temannya.

“Kami dari pihak sekolah memastikan tidak ada tindak kekerasan yang terjadi. Karena sebelum ia datang ke sekolah, matanya  sudah merah di sebelah kiri,” ujarnya, Selasa 4 November 2025.

Kemudian, Eka mengaku, wali murid langsung mendatangi murid untuk dibawa ke Puskesmas. “Dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RS Bunda Palembang. Untuk hasil rumah sakit kami belum tahu pasti,” katanya.

Ketika dikonfirmasi mengenai pengakuan murid yang mengatakan, bahwa ada guru yang memukulnya menggunakan cincin, Eka mengaku bahwa hal tersebut tidak benar adanya karena tidak ada pihak guru yang menggunakan cincin.

“Pas tahu beritanya, saya juga kaget karena tidak ada pihak guru yang menggunakan cincin,” jelasnya.

Eka juga mengatakan, bahwa belum ada hasil kabar pemeriksaan lebih lanjut mengenai keadaan Fatiyah saat ini. Namun, jika keterangan dari pihak sekolah dibutuhkan lagi, maka ia siap untuk bersaksi.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Palembang, Muhammad Affan Prapanca, memastikan bahwa pihaknya telah mengambil langkah cepat sejak laporan mencuat. Ia menegaskan penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kesimpulan soal dugaan penganiayaan.

“Sejak kemarin kami sudah berkomunikasi dengan pihak sekolah dan keluarga. Pagi tadi kami juga mendampingi Bapak Wali Kota berkunjung ke rumah dan ke sekolah,” kata Affan.

Berdasarkan klarifikasi awal di sekolah, Disdik belum menemukan indikasi kekerasan. Affan menyebut pihaknya juga telah melakukan tanya jawab dengan seluruh teman sekelas korban.

“Hasil klarifikasi sementara, tidak ada laporan atau pengakuan dari anak-anak bahwa terjadi penganiayaan,” ujarnya.

Untuk memastikan kondisi kesehatan Fatiyah Disdik mengarahkan pemeriksaan medis lebih lanjut di rumah sakit.

“Pemeriksaan masih berjalan dan kami menunggu hasil resmi dari dokter untuk mengetahui penyebab lebam tersebut,” tutur Affan.

Affan menegaskan pentingnya menjaga objektivitas publik agar kasus ini tidak berkembang menjadi spekulasi liar. Ia meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan resmi.

“Kita harus mengedepankan asas praduga tak bersalah. Kami minta semua pihak bersabar dan tidak membuat asumsi sebelum fakta diperoleh,” kata dia.

Sebelumnya, setelah melaporkan peristiwa dugaan pemukulan yang menimpa Fatiyah di Polrestabes Palembang, Sukrisnawati (40) langsung menuju ke RS Bari Palembang untuk mengecek kondisi anaknya tersebut.

Ditemui di RS Bari, Palembang terlihat korban sedang digendong oleh ibunya. “Anak saya trauma pak atas peristiwa tersebut. Dan hingga kini tidak mau sekolah karena peristiwa ini,” kata Sukrisnawati.

Terkait akan dirawatnya anaknya di RS Bari, Palembang oleh Walikota dirinya menyambut baik kebaikan orang nomor satu di kota ini itu.

“Saya sangat berterima kasih pak, atas pertolongannya. Namun karena lokasi RS Bari yang jauh dari lokasi rumah, saya pun meminta agar anak saya di rawat ke RS Bunda di kawasan Demang Lebar Daun,” harapnya.

Hingga kini, lebih jauh Sukrisnawati mengatakan, anaknya masih menjalani pemeriksaan mata.

“Tadi kami masuk melalui IGD RSUD Palembang Bari, lalu kami dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut di Poli Mata dan Poli Anak,” ucapnya.

“Dari hasil sementara anak kami harus dilakukan rawat inap di RS Palembang Bari, namun kami berharap agar dapat di rawat di RS Bunda Jalan Demang Lebar daun dengan alasan agar lebih dekat dekat rumah kami,” tambahnya.

Ditempat yang sama, Kepala  UPTD PPA Kota Palembang, Bayu Burhan mengatakan setelah mengetahui adanya anak siswi SDN 150 Palembang yang dianiaya oleh oknum guru, dirinya bersama anggota PPA Kota Palembang, langsung mendatangi RS Bari, Palembang.

“Ya begitu kami mendapatkan laporan kita langsung mendatangi RS Bari, Palembang untuk melihat langsung keadaan korban,” katanya. (ANA)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *