Unsri Beri Pelatihan Perajin Songket Cara Digital Memasarkan Produk

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Para pengrajin songket di Desa Limbang Jaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan beberapa hari kemarin mendapatkan pelatihan cara menggunakan teknologi digital untuk memasarkan produk.

Pelatihan itu dilakukan para ahli di bidangnya, yang dalam hal ini, Tim Pengabdian dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) saat berkunjung ke desa tersebut.

Ketua Tim Pengabdian Unsri, Dr. Agustina Bidarti mengatakan, pelatihan itu dilakukan untuk mendukung perajin songket yang hingga kini masih terkendala dan kebingungan tentang cara distribusi dan pemasaran songket.

Dr Agustina Bidarti menjelaskan kegiatan bertujuan untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku para peserta, terutama pada kesetaraan gender, karena mayoritas pelaku pengrajin ini adalah kaum perempuan.

“Khusus pada kegiatan ini kita memberikan pelatihan terkait pengemasan, pembuatan merek atau branding, serta penetapan harga produk songket,” katanya, Kamis 6 November 2025.

Selanjutnya, menurut dia dilakukan pemanfaatan berbagai platform digital seperti WhatsApp Business, Instagram, dan marketplace lokal untuk pemasaran sebagai meningkatkan pengrajin songket ini.

“Kita, juga sebelumnya melakukan pendampingan pada para pengrajin ini untuk membuat katalog digital dan materi promosi songket yang mereka hasilkan”, tegas Dr. Agustina Bidarti.

“Pengembangan keterampilan digital marketing untuk para pengrajin tersebut agar dapat memasarkan produk lebih luas, sehingga meningkatkan pendapatan mereka,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut Eka Mulyana, kandidat doktor dari Manajemen Agribisnis Unsri, juga memberi pencerahan teknik fotografi ke para peserta.

“Teknik fotografi produk songket yang mereka hasilkan untuk membuat foto yang menarik. Foto-foto yang dihasilkan ini akan digunakan untuk masuk dalam platform media sosial seperti Instagram, sehingga menjadi media promosi songket Limbang Jaya yang mereka hasilkan,” terangnya.

Selain itu, katanya, foto-foto songket produk para pengrajin ini juga dimanfaatkan pada media sosial berbayar, seperti WA Business dan Akun Marketplace.

“Bahkan juga kita sondingkan ke beberapa platform e-commerce terbesar, seperti Shopee dan Tokopedia, dan lainnya,” ujar Dr (Cand) Eka Mulyana.

“Pengetahuan katalog digital online dari katalog versi cetak informasi produk songket Limbang Jaya juga menjadi perhatian Tim Pengabdian. Agar para pengrajin juga rajin mengupload berbagai gambar dan video produk songket mereka ke media sosial interaktif,” tambahnya.

Sementara Azqia Wardani M Si, dosen UNSRI lainnya yang juga memberikan pelatihan pada perajin songket menambahkan dengan pelatihan, memungkinkan para pembeli songket di media sosial untuk berinteraksi dengan produk yang dihasilkan para pengrajin Limbang Jaya.

“Kami memasukkan fitur-fitur gambar, video, dan fitur augmented reality juga. Dengan demikian, akan mudah diakses, baik oleh pembeli maupun para pengrajin sebagai penjualnya, mereka juga dapat berinteraksi  kapan saja dan di mana saja melalui perangkat, baik handphone, smartphone, ataupun tablet yang dimiliki pengrajin ini,” kata dia.

Penggunaan katalog digital ini juga, menurutnya para pengrajin yang juga sekaligus penjual produk songketnya mudah untuk memperbarui berbagai informasi produk yang ditawarkan di media sosial ini.

Sedangkan untuk memberi keakuratan informasi dalam digital marketing pada katalog diberi pengantar informasi songket yang diproduksi oleh para pengrajin. Informasi ini berisi sejarah songket, makna dan motif songket, sehingga dapat mempermudah pembeli dalam memilih songket yang diinginkan.

Sejarah songket Limbang Jaya sendiri, katanya dimulai ketika migrasi penguasa Palembang, Pangeran Sido Ing Rejek ke Marga Sakatiga dan sekitarnya. Ketika Perang Palembang-VOC selama bulan November 1659, Kraton Kuto Gawang dan Palembang dibakar serta dibumihanguskan VOC.

Pangeran Sido Ing Rejek mundur ke Sakatiga sebagai pertahanan di uluan Palembang. Beliau menjadikan Muara Meranjat sebagai pusat pemerintahan sementara. Lalu, para puteri-puteri beliau ditempatkan di daerah Pondok sehingga diganti menjadi Limbang Jaya.

“Sedangkan dayang-dayangnya ditempatkan di daerah yang disebut Tanjung Dayang. Nah, dari sinilah kerajinan songket hadir di Limbang Jaya. Bertahan hingga sekarang. Selain itu, songket-songket tersebut memiliki banyak motif,” tuturnya.

Disampaikannya berbagai motif songket yang dihasilkan memiliki makna bagi para pemakainya. Narasi sejarah dan makna motif ini akan  masukkan dalam katalog digital sebagai pengantar dan informasi penjualannya.

Selama kegiatan berlangsung para peserta antusias dan memberi apresiasi tinggi kepada kegiatan ini. Para pengrajin yang diambil gambar-gambar motif songket yang dihasilkannya, termasuk video-video praktik pembuatan songket bergembira ria bersama tim pengabdian dan mahasiswa.

“Kami mengucapkan terima kasih banyak pada komitmen Unsri dalam memberdayakan para pengrajin songket tradisional di dusun kami, Limbang Jaya. Kami minta kegiatan ini dilakukan terus di tahun-tahun mendatang. Agar kami sebagai pengrajin songket merasa diperhatikan sekaligus diberdayakan,” kata salah satu peserta perajin songket bernama Juwita, saat Tim UNSRI berkunjung ke desanya. (ANA)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *