SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – MTs Negeri 2 Palembang yang berlokasi di Jalan Inspektur Marzuki Kelurahan 20 Ilir D IV Kecamatan Ilir Bar I ini, terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang siswa melalui Program Madrasah Ramah Anak (MRA).
Kepala MTs Negeri 2 Palembang, M A Fajar menyampaikan bahwa Program MRA ini bukan hanya sebatas jargon, tetapi telah menjadi bagian penting dari budaya madrasah.
“Kami ingin madrasah ini menjadi rumah kedua bagi siswa, tempat mereka merasa dihargai, didengar, dan tumbuh dengan bahagia,” terangnya, Sabtu, 4 Oktober 2025.
Menurutnya, upaya ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, bebas dari kekerasan, serta mendorong keterlibatan aktif seluruh warga madrasah, khususnya peserta didik.
“MTsN 2 Palembang mengimplementasikan Program MRA sebagai bagian dari langkah strategis untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berorientasi pada perlindungan hak-hak anak,” katanya.
“Program ini dijalankan oleh seluruh elemen madrasah, mulai dari kepala madrasah, guru, staf, hingga peserta didik, dengan dukungan dari Komite Madrasah serta pihak-pihak eksternal seperti Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kota Palembang,” tambahnya.
Diterangkannya, program ini mulai diintensifkan sejak awal tahun ajaran 2025/2026, dan kini telah memasuki tahap penguatan nilai-nilai serta pembudayaan di lingkungan madrasah.
“Program Madrasah Ramah Anak bertujuan untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan hak atas pendidikan yang layak dalam lingkungan yang aman, tanpa diskriminasi, serta berdampak dalam pengembangan potensi akademik dan karakter mereka secara optimal,” ujarnya.
Implementasi program dilakukan melalui berbagai strategi, disampaikan Fajar, seperti penerapan kebijakan zero tolerance terhadap kekerasan fisik maupun verbal.
“Peningkatan kapasitas guru dalam membangun interaksi positif dan komunikatif dengan siswa, penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung kenyamanan belajar,
pelibatan siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan forum musyawarah siswa, dan penguatan pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan yang inklusif,” jelasnya melanjutkan. (ANA)

Leave a Reply