Nama : Qanita Alilatulbariza
NIM : PO7133126027
Prodi : D3 Sanitasi
Pancasila dalam Keseharian : Refleksi Hidup dan Berkelakuan
Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa, Penerapan nilai ketuhanan Saya rasakan dalam wujud toleransi antartetangga. Ketika tetangga beda iman merayakan hari besarnya, kami saling menjaga ketenangan dan berkunjung untuk bersilaturahmi. Saling menghormati waktu ibadah tanpa merasa terganggu menjadi bentuk iman yang inklusif di lingkungan tempat tinggal.
Sila Kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Pengalaman bersosialisasi mengajari Saya untuk memperlakukan siapa saja tanpa memandang status sosial. Saat melihat rekan kerja atau tetangga mengalami musibah, kesadaran untuk mengulurkan bantuan tanpa pamrih lahir begitu saja. Menjaga tutur kata, menghargai perasaan orang lain, serta menolak perundungan adalah wujud empati kemanusiaan yang berusaha saya jaga.
Sila Ketiga : Persatuan Indonesia, Kerukunan dalam keberagaman sangat terasa saat kegiatan gotong royong warga. Dalam kerja bakti membersihkan saluran air desa, perbedaan suku, ras, maupun latar belakang politik melebur begitu saja. Kami bekerja bersama, bersenda gurau, dan menikmati hidangan yang disajikan warga secara bergantian.
Sila Keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Prinsip ini paling sering Saya terapkan saat mengambil keputusan kelompok, baik di lingkungan RT maupun pekerjaan. Menahan ego, mendengarkan pandangan orang lain dengan kepala dingin, dan mengutamakan mufakat di atas kepentingan pribadi menjadi kunci agar tidak terjadi konflik berkepanjangan.
Sila Kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Keadilan sosial dimulai dari perilaku tidak semena-mena terhadap hak orang lain. Mematuhi antrean fasilitas umum, membagi peran secara seimbang dalam tugas bersama, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan adalah wujud kepedulian agar kesejahteraan dapat dirasakan bersama.
Melalui kelima sila ini, Saya menyadari bahwa menjadi warga negara yang baik tidak memerlukan aksi megah. Cukup dengan mempraktikkan tenggang rasa, keadilan, dan kerja sama dalam aktivitas harian, Pancasila akan terus hidup dan menjaga keharmonisan kita.







