Fakta Mengejutkan di Sidang Korupsi Muratara, Pompa Portable Diduga Di-Mark Up Puluhan Juta

- Redaksi

Kamis, 21 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat para Terdakwa dua Terdakwa dihadadirkan disidang PN Tipikor Palembang,Kamis (21/5/2026)

Saat para Terdakwa dua Terdakwa dihadadirkan disidang PN Tipikor Palembang,Kamis (21/5/2026)

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID- Sidang dugaan korupsi pengadaan pompa portable penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 82 desa Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) kembali memunculkan fakta mengejutkan di Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (21/5/2026).

 

Dalam sidang yang menghadirkan terdakwa Supriyono selaku Kabid Pemerintahan Desa Dinas PMD Muratara dan Kusnandar, Direktur CV Sugih Jaya Lestari, terungkap adanya dugaan penggelembungan harga hingga puluhan juta rupiah per unit pompa portable.

 

Perkara yang diperkirakan merugikan keuangan negara sebesar Rp1,1 miliar lebih itu dipimpin Majelis Hakim Kristanto Sahat Sianipar SH MH dan dihadiri Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Lubuklinggau.

 

Di hadapan majelis hakim, Supriyono mengungkap proses penyusunan aturan pengadaan dilakukan secara terburu-buru oleh staf di bidangnya karena mengejar target pelaksanaan kegiatan tahun anggaran 2024.

 

“Perbup itu memang disiapkan oleh staf kami, Widi dan Untung,” kata Supriyono dalam persidangan.

 

Majelis hakim kemudian menyoroti keterlambatan penyelesaian aturan pengadaan yang seharusnya rampung sebelum kegiatan berjalan. Hakim juga mempertanyakan dasar penetapan harga pompa portable yang mencapai Rp53 juta lebih per unit.

 

Menjawab pertanyaan tersebut, Supriyono mengaku penentuan harga dilakukan oleh tim internal berdasarkan besarnya pagu anggaran ADD yang tersedia.

 

“Harga itu kami tentukan sendiri bersama tim, disesuaikan dengan pagu anggaran yang ada,” ujarnya.

 

Fakta lain juga terungkap dari pengakuan terdakwa Kusnandar. Ia menyebut harga pompa portable dari distributor hanya sekitar Rp20 juta per unit, namun dijual dalam proyek pengadaan desa dengan nilai Rp53,7 juta per unit.

 

“Dari distributor harganya sekitar Rp20 juta, lalu dijual dalam proyek ini Rp53,7 juta,” ungkap Kusnandar.

 

Tak hanya soal selisih harga, sidang juga membongkar peran pihak lain bernama Astuti yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Kusnandar menyebut Astuti bersama Rini menjadi pihak yang membuka jalur komunikasi dengan pemerintah daerah hingga proyek tersebut berjalan.

 

Bahkan, Astuti disebut memperoleh keuntungan lebih dari Rp600 juta dari proyek pengadaan pompa portable karhutla itu.

 

“Yang berkomunikasi dengan pihak pemerintah itu Astuti dan Rini. Astuti juga yang mengetahui informasi proyek dan membantu penjualan barang,” jelasnya.

 

Pernyataan tersebut langsung didalami majelis hakim. Hakim mempertanyakan alasan Astuti bisa mendapat keuntungan besar meski tidak tercantum sebagai pihak yang menandatangani kontrak pengadaan.

 

Selain mengungkap aliran keuntungan, sidang juga menyinggung adanya sejumlah kepala desa yang menolak membeli pompa portable melalui CV Sugih Jaya Lestari karena harga dianggap terlalu tinggi.

 

Dalam persidangan disebutkan, terdapat toko pembanding yang menjual pompa portable lengkap dengan perlengkapannya hanya sekitar Rp24 juta per unit, jauh lebih murah dibanding harga proyek yang mencapai Rp53 juta lebih.

 

Usai mendengarkan keterangan para terdakwa, majelis hakim menunda sidang dan akan melanjutkan perkara pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum Kejari Lubuklinggau.

Penulis : Hermansyah

Editor : Jaks

Berita Terkait

Pledoi Dito Prayoga: Kuasa Hukum Bongkar Kelemahan Tuntutan, Minta Terdakwa Dibebaskan
Hakim Tolak Eksepsi Pasutri, Kasus Sembako Rp2,28 Miliar Masuk Babak Pembuktian
Dituduh Curi dan Pecahkan Kaca, Bocah 11 Tahun Diduga Dicekik dan Ditendang
Tim Jatanras Polda Sumsel Bekuk Pelaku Curanmor dalam OPS SIKAT-I MUSI 2026
Warga Lampung Tewas Dikeroyok di Palembang, Alami Luka Tusuk di Dada dan Punggung
CANTIK-CANTIK JADI PENGEDAR! Dua Ratu Sabu Muda Ditangkap di Kontrakan Pagar Alam, Simpan Sabu 0,76 Gram Dalam Bungkus Soklin
Bongkar Fee 20 Persen Proyek Smartboard: Rp13 Miliar Mengalir ke Abi, PT MSA Cuma Dapat Rp1 Miliar
Korupsi BTN e-Batara Pos Rp4,67 Miliar, Eks Kepala Kantor Pos Air Sugihan Dituntut 8,5 Tahun
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:57 WIB

Pledoi Dito Prayoga: Kuasa Hukum Bongkar Kelemahan Tuntutan, Minta Terdakwa Dibebaskan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:51 WIB

Hakim Tolak Eksepsi Pasutri, Kasus Sembako Rp2,28 Miliar Masuk Babak Pembuktian

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Dituduh Curi dan Pecahkan Kaca, Bocah 11 Tahun Diduga Dicekik dan Ditendang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Tim Jatanras Polda Sumsel Bekuk Pelaku Curanmor dalam OPS SIKAT-I MUSI 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Warga Lampung Tewas Dikeroyok di Palembang, Alami Luka Tusuk di Dada dan Punggung

Berita Terbaru