Kado dari Siswa untuk Guru, Ungkapan Tulus Rasa Terima Kasih Tanpa Paksaan

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti lingkungan sekolah saat sejumlah siswa dengan penuh antusias menyerahkan kado kepada para guru. Pemberian tersebut bukan karena kewajiban atau paksaan, melainkan ungkapan tulus rasa terima kasih dan cinta siswa kepada guru yang selama ini telah mendidik serta membimbing mereka dalam proses pembelajaran.

Momen sederhana namun bermakna itu berlangsung dalam suasana akrab. Para siswa tampak membawa bingkisan kecil, kartu ucapan, hingga hasil karya buatan tangan sendiri. Meski tidak bernilai materi besar, kado tersebut menjadi simbol penghormatan dan apresiasi terhadap peran guru dalam kehidupan mereka.

Kepala SMP Negeri 3 Palembang, Nofritawati M.Si, menegaskan bahwa pihak sekolah sama sekali tidak mewajibkan atau mengarahkan siswa untuk memberikan hadiah kepada guru. Menurutnya, kegiatan tersebut murni lahir dari inisiatif dan keikhlasan siswa.

“Kami tidak pernah menginstruksikan siswa untuk memberikan hadiah kepada guru. Ini murni bentuk kasih sayang dan kedekatan emosional siswa kepada para pendidiknya,” ujarnya.

Nofritawati menambahkan, esensi terpenting dari peristiwa tersebut bukan terletak pada kado yang diterima, melainkan pada nilai-nilai karakter yang tumbuh dalam diri siswa. Rasa hormat, empati, serta kemampuan mengekspresikan rasa terima kasih secara positif menjadi pembelajaran penting di luar materi akademik.

Menurutnya, guru bukan sekadar pengajar di dalam kelas, tetapi juga sosok tempat siswa bertanya, berbagi cerita, serta mendapatkan motivasi saat menghadapi kesulitan belajar maupun persoalan pribadi.

Ia menilai momen tersebut sebagai cerminan keberhasilan pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah. Pendidikan, kata dia, tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada penanaman nilai kemanusiaan, etika, dan budi pekerti.

“Ketika siswa mampu menghargai gurunya tanpa diminta, itu menunjukkan nilai budi pekerti dan rasa hormat telah tumbuh dengan baik,” katanya.

Meski demikian, pihak sekolah tetap menjunjung prinsip kesederhanaan dan keadilan. Sekolah juga mengingatkan agar tidak ada siswa yang merasa terbebani, tertekan, atau terpaksa ikut dalam kegiatan tersebut.

Lebih dari sekadar tradisi, momen pemberian kado ini menjadi pengingat akan eratnya ikatan emosional antara guru dan murid. Ikatan yang terbangun dari proses panjang interaksi, keteladanan, dan ketulusan dalam dunia pendidikan.

“Bagi guru, kado terindah bukanlah bingkisan yang diterima, melainkan kebahagiaan melihat peserta didik tumbuh menjadi pribadi berkarakter, berakhlak baik, dan mampu menghargai sesama,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu siswa, Ratu Naswanda Aidila, menuturkan bahwa pemberian kado tersebut merupakan wujud penghargaan atas kesabaran, perhatian, dan ketulusan para guru selama membimbing mereka di sekolah.

“Kami ingin mengucapkan terima kasih. Guru selalu sabar mengajari kami, meskipun kadang kami sulit diatur. Kado ini hanya tanda kecil dari rasa sayang dan penghormatan kami,” ujar Ratu.

Ia menegaskan bahwa pemberian kado tersebut tidak bersifat wajib dan tidak dilakukan karena paksaan. Inisiatif itu lahir dari kesadaran siswa dengan dukungan orang tua sebagai bentuk apresiasi tulus kepada para pendidik.

“Ini bukan kewajiban. Ini murni keinginan kami sebagai siswa, bersama orang tua, untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada guru,” pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *