oleh

Terpantau Langka, Pemprov Pertanyakan Distribusi Gas Melon

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Gas elpiji 3 kilogram terpantau langka di beberapa daerah di Sumatera Selatan (Sumsel). Kelangkaan ini terlihat langsung oleh Gubernur Sumsel, Herman Deru, saat ia melakukan Kunjungan ke Kabupaten Lahat akhir Oktober 2021. Bahkan, harga jual dari Gas Melon ini mencapai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.

Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel, Ekowati Retnaningsih, menjelaskan jika Pemprov telah mengambil langkah dari temuan Gubernur Sumsel itu.

Menurut Eko, pihaknya telah melakukan rapat dengan pihak terkait seperti Pertamina, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Biro Ekonomi, Dinas ESDM, Perdagangan, Hiswana Migas.

“Permasalahanya karena ada pengurangan kuota di daerah tertentu untuk mencukupi permintaan di daerah lain yang lebih tinggi,” kata Eko, Senin (1/11/2021).

Sedangkan untuk kebutuhan Provinsi SumselĀ  213.565 metrik ton, untuk itu ia meminta kepada pihak pertamina tidak mengurangi kuota yang ada jika ada daerah lain yang meminta kuota lebih banyak.

“Menurut Pertamina, kuota yang diturunkan sesuai alokasi yang ditetapkan Dirjen Migas, tapi setelah kami lihat distribusinya tidak merata. Misal di Lahat, kuotanya 9.563 metrik ton, sampai Desember diperkirakan hanya 9.453 metrik ton. Ada selisih 110 ton metrik. Alasan Pertamina pemgurangan itu untuk memenuhi kebutuhan daerah lain yang permintaannya tinggi,” terangnya.

Sedangkan untuk permasalahan harga yang tinggi, menurut Eko harga yang di pangkalan sudah menjual sesuai dengan HET yang telah ditentukan. Namun, banyak panggakalan ini kebanyakan menjual kepada pengecer, jadi harganua naik lagi kepada masyarkat.

“Dari 136 agen dan 6.100 pangkalan sudah menjual sesuai dengan HET yang telah ditentukan. Sayangnya, pangkalan lebih banyak menjual gas 3 Kg-nya kepada pengecer bukan ke masyarakat langsung. Bahkan kami juga meminta kuota untuk ke masyarakat juga ditambah,” jelasnya.

Permasalahan lain juga pada penjualan yang tidak sesuai target, Gas melon yang diperuntukan untuk warga miskin malah banyak juga dipergunakan oleh kalangan menengah ke atas bahkan hingga restoran.

“Disinyalir, pembelinya tidak tepat sasaran. Karena sudah ditulis di tabung, hanya untuk orang miskin. Tapi kenyataannya semua bisa membeli,” katanya. (ANA)

Komentar

Berita Hangat Lainya