Tag: Sumbagsel

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat di FT Lubuklinggau

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Kesiapsiagaan Tanggap Darurat di FT Lubuklinggau

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Keselamatan kerja bukan sekadar aturan, melainkan budaya yang harus dijalankan secara konsisten dalam setiap aktivitas operasional energi. Dalam rangka memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 2026, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Fuel Terminal (FT) Lubuklinggau menggelar kegiatan _refreshment_ kesiapsiagaan personel dalam menghadapi situasi darurat di Hotel Grand Zuri Lubuklinggau, Minggu (25/1/2026).

    Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) dengan fokus pada kesiapan sumber daya manusia menghadapi potensi keadaan darurat, baik di area operasional maupun lingkungan sekitar. Peserta terdiri dari pekerja Fuel Terminal Lubuklinggau serta operator SPBU di wilayah suplai yang berperan sebagai garda terdepan dalam situasi darurat.

    Rangkaian kegiatan menghadirkan pemateri lintas instansi, antara lain RS Siloam Lubuklinggau, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kota Lubuklinggau, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Lubuklinggau, Polres Lubuklinggau, serta pimpinan SPBU dan Pertashop di wilayah Lubuklinggau dan sekitarnya. Materi disampaikan secara aplikatif untuk memperkuat pencegahan kecelakaan kerja, kesiapsiagaan darurat, serta kepatuhan terhadap standar operasional.

    Perwakilan Basarnas Kota Lubuklinggau, Wahit Ivan Afrianto, berbagi pengalaman lapangan dalam penanganan kondisi darurat dan kebencanaan. Ia menekankan pentingnya pemahaman prinsip dasar pertolongan dan penyelamatan bagi pekerja yang berpotensi menjadi first responder di lokasi kejadian.

    “Keinginan menolong harus dibarengi pengetahuan dan tahapan penyelamatan yang benar agar evakuasi berjalan aman dan penolong tidak menjadi korban berikutnya,” ujar Wahit.

    Lima topik utama menjadi fokus pembahasan, meliputi _first aid_ dan manajemen kelelahan, pengamanan operasional, tanggap bencana, serta penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dilengkapi simulasi lapangan. Perpaduan teori dan praktik diterapkan agar materi mudah dipahami dan dapat langsung diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari.

    Respons positif datang dari para peserta, khususnya operator SPBU yang sehari-hari berhadapan langsung dengan potensi risiko kerja di lapangan.

    “Program ini membantu kami memahami langkah keselamatan dan penanganan kondisi darurat, sehingga lebih siap dan percaya diri untuk bertindak cepat,” ungkap salah satu operator SPBU di wilayah Lubuklinggau.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa penerapan K3 tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keselamatan masyarakat sekitar.

    “Penerapan K3 yang konsisten menciptakan operasional yang aman dan andal, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat. Melalui Bulan K3 Nasional, kami menegaskan komitmen menjaga keselamatan pekerja, operator SPBU, dan masyarakat sekitar dengan menekan risiko kecelakaan melalui peningkatan kompetensi,” ujar Rusminto.

    Melalui upaya berkelanjutan ini, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan aspek HSSE secara konsisten guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, sekaligus mendukung pencapaian _Zero Accident_ di seluruh lini operasional. Langkah tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Bantu UMKM Songket Permata Bangkit dari Titik Terendah

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Bantu UMKM Songket Permata Bangkit dari Titik Terendah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Jatuh, bangun, jatuh lagi, hingga ke titik tidak punya apa-apa. Itulah yang dialami Sri Ratna, pendiri Songket Permata. Di saat paling terpuruk, ketika hampir kehilangan harapan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengulurkan tangan, memberikan kesempatan kembali, mengikutsertakan dalam pameran, dan membantu membangun kembali kepercayaan diri.

    Sri Ratna kembali bangkit bersama rekan seperjuangan, seorang janda beranak satu, melalui Songket Permata yang didirikan pada 2012 di Indralaya, Ogan Ilir. Nama Songket Permata diambil dari makna nama Sri Ratna sebagai simbol harapan dan doa orang tua.

    “Permata adalah singkatan dari Perusahaan Madlan Talang Aur, cita-cita ayah untuk membangun usaha yang mengingat asal-usul dan mendukung para penenun sebagai penopang ekonomi keluarga. Makna inilah yang menjadi doa orang tua dan harapan agar pengrajin songket di Sumsel terus bertahan,” ujar Sri.

    Proses pembuatan songket memakan waktu sekitar satu bulan dengan unggulan pewarna alam yang ramah lingkungan karena hampir 90 persen tidak menghasilkan limbah berbahaya. Produk Songket Permata dipasarkan dengan harga Rp100 ribu hingga Rp2.5 juta, dengan penghasilan yang masih fluktuatif di kisaran Rp10 juta hingga Rp40 juta per bulan.

    Perjalanan Songket Permata penuh jatuh bangun hingga titik terendah, sebelum Sri Ratna bangkit melalui pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel yang memperluas pemasaran dan jejaring usaha.

    “Di titik terendah saya hampir menyerah karena sudah tidak punya apa – apa, tetapi dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel membuat saya kembali percaya diri, bangkit, dan terus berjuang untuk masa depan anak-anak dan lingkungan,” ujar Sri.

    Songket Permata kini mempekerjakan empat warga sekitar Indralaya, termasuk janda beranak satu sebagai pengrajin, sekaligus menjadi ruang bangkit bersama bagi para perempuan yang terus berjuang memperbaiki kehidupan. Meski penghasilan masih fluktuatif, Sri Ratna tetap berbagi ilmu tentang songket dan pewarna alam di berbagai festival untuk menjaga kelestarian tradisi.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa Songket Permata adalah bukti nyata bahwa pendampingan berkelanjutan dapat membantu UMKM bangkit dari keterpurukan.

    “Sri bangkit dari titik terendah melalui pendampingan berkelanjutan. Yang membanggakan, ia tumbuh bersama sesama janda, melestarikan pewarna alam ramah lingkungan, dan menciptakan dampak berlapis bagi UMKM, perempuan, dan lingkungan,” ujar Rusminto.

    Sebagai bagian dari implementasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pemberdayaan Songket Permata turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan), Tujuan 5 (Kesetaraan Gender), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Kesiapsiagaan Darurat Bersama Warga Pasar Lama Lahat

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Kesiapsiagaan Darurat Bersama Warga Pasar Lama Lahat

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terus memperkuat komitmen terhadap keselamatan operasional dan perlindungan masyarakat melalui pelaksanaan simulasi kedaruratan (emergency drill) di Fuel Terminal (FT) Lahat. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (30/12) dan melibatkan tidak hanya unsur internal perusahaan, tetapi juga 50 warga Kelurahan Pasar Lama yang berada di sekitar wilayah operasional.

    Simulasi kedaruratan tersebut dilaksanakan di area Kantor Fuel Terminal Lahat serta lingkungan Kelurahan Pasar Lama sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko terpadu. Langkah ini menjadi penting mengingat lokasi operasional FT Lahat yang berbatasan langsung dengan kawasan permukiman, sehingga menuntut kesiapsiagaan kolektif antara perusahaan dan masyarakat.

    Pelaksanaan emergency drill melibatkan unsur lengkap, mulai dari Pemadam Kebakaran, Tim Medis, Tim Keamanan, Site Emergency Response Team (SERT), Kepolisian, hingga masyarakat sekitar. Keterlibatan lintas pihak ini mencerminkan pendekatan komprehensif Pertamina Patra Niaga dalam memastikan bahwa aspek keselamatan tidak hanya dijalankan secara internal, tetapi juga terintegrasi dengan lingkungan sekitar.

    Skenario simulasi dirancang berdasarkan potensi risiko aktual, diawali dengan kebocoran gas yang berdampak hingga ke permukiman warga dan berpotensi memicu kebakaran. Dalam simulasi tersebut, diterapkan prosedur penanganan darurat secara menyeluruh, mulai dari aktivasi sistem pengamanan water wall, respons cepat tim pemadam kebakaran, hingga proses evakuasi warga menuju titik kumpul yang telah ditetapkan sesuai standar keselamatan.

    Salah satu warga Kelurahan Pasar Lama, Marzinah, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan kejelasan prosedur dan meningkatkan rasa aman bagi masyarakat.

    “Dengan adanya simulasi ini, kami menjadi lebih memahami jalur evakuasi dan mekanisme yang harus dilakukan apabila terjadi kondisi darurat,” ujar Marzinah.

    Lurah Kelurahan Pasar Lama, Risnawati, juga menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

    “Kami mengapresiasi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel yang secara konsisten membangun kesiapsiagaan dan melibatkan masyarakat dalam upaya keselamatan bersama. Sinergi seperti ini sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertata,” ungkap Risnawati.

    Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa keselamatan merupakan bagian integral dari tata kelola perusahaan.

    “Pelaksanaan emergency drill merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mengelola risiko operasional secara bertanggung jawab. Keselamatan bukan hanya kewajiban internal, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan sistem keselamatan yang andal dan berkelanjutan,” jelas Rusminto.

    Kegiatan simulasi kedaruratan ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, khususnya pada aspek keselamatan, pengelolaan risiko, dan kontribusi sosial. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Tujuan 8 terkait lingkungan kerja yang aman dan berkelanjutan serta Tujuan 11 mengenai pembangunan kota dan komunitas yang tangguh.

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ubah Kopi Kerinci Menjadi Produk Bernilai Tinggi*

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ubah Kopi Kerinci Menjadi Produk Bernilai Tinggi*

    SUARAPUBLIK.ID, JAMBI – Keprihatinan Gunaryadi melihat harga kopi petani yang hanya Rp17–18 ribu per kilogram pada 2018 mendorongnya untuk menciptakan solusi. Melalui inovasi dan pendampingan intensif Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), usaha kopi miliknya, ICN (Indonesia Coffee Nature) Kerinci, kini mencapai harga Rp65 ribu per kilogram dan berhasil menciptakan diversifikasi produk berupa parfum kopi dengan total nilai mencapai Rp900 ribu per kilogram.

    “Dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui UMK Academy benar-benar membuka mata kami. Dari literasi keuangan, produk ramah lingkungan, manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), hingga strategi marketing, semuanya kami pelajari dengan mendalam,” ungkap Gunaryadi, pendiri ICN yang memulai usahanya sejak 2018.

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga bantuan konkret berupa mesin roasting, mesin giling, timbangan, dan laptop. Selain itu, pendampingan pengurusan izin Halal, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), dan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) memastikan produk ICN memenuhi standar dan siap bersaing.

    ICN terus memperluas hilirisasi produknya. Selain parfum kopi, mereka menghasilkan kopi bubuk, lilin aromaterapi kopi, dan _coffee charcoal_ penyaring udara dengan harga Rp25–70 ribu. Seluruh proses produksi dilakukan dengan standar ramah lingkungan dan efisiensi tinggi.

    Pembinaan berkelanjutan ini menghasilkan peningkatan signifikan. Omzet ICN melonjak dari Rp65 juta per bulan pada 2023 menjadi Rp165 juta per bulan pada 2024, atau naik 154 persen. Usaha ini kini mempekerjakan sembilan orang di bagian sortir, produksi, dan penjualan.

    Dampak sosialnya pun terlihat nyata. Beberapa karyawan mulai merasakan peningkatan kesejahteraan, bahkan ada yang kini sudah mulai membangun rumah sendiri.

    “Alhamdulillah, dari bekerja di sini saya bisa menyekolahkan anak hingga lulus sebagai Sarjana Hukum. Saya sangat bersyukur,” ujar Tri Widyastuti, salah satu karyawan ICN.

    Dalam proses produksinya, ICN menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan seluruh limbah kopi. Limbah bubuk dijadikan parfum, sisa parfum diolah menjadi lilin aromaterapi, dan limbah lilin diubah menjadi coffee charcoal penyaring udara. Sementara abu kulit ari kopi dengan jumlah sekitar 24 kg per bulan, sepenuhnya diolah menjadi kompos menggunakan EM4 sekaligus menjadi bahan bakar tambahan, sehingga tidak ada limbah yang terbuang.

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel juga aktif mengikutsertakan ICN dalam berbagai pameran dan expo, sehingga produk-produknya semakin dikenal luas. ICN telah meraih berbagai prestasi, seperti Juara 3 Bootcamp Training Bank Indonesia Jambi, Petani Berprestasi 1 Nasional, Juara 3 UMK Academy Go Online 2023, dan Juara 1 UMK Academy Kategori Go Green 2024.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan komitmen perusahaan.

    “ICN Kerinci menunjukkan bagaimana intervensi yang tepat, mulai dari penguatan kapasitas, pemenuhan legalitas, hingga pemanfaatan teknologi yang dapat mengubah rantai nilai komoditas lokal menjadi lebih berkelanjutan dan bernilai tinggi. Pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga membawa dampak sosial yang nyata bagi para pekerja dan keluarganya. Inilah bentuk komitmen kami dalam memastikan UMKM binaan mampu tumbuh, naik kelas, dan berkontribusi pada ekonomi daerah,” jelas Rusminto.

    Program pembinaan ICN Kerinci merupakan wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan), Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Pemberdayaan Pesisir Bengkulu Lewat Program Konservasi Mangrove Bersama Atuk

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Pemberdayaan Pesisir Bengkulu Lewat Program Konservasi Mangrove Bersama Atuk

    SUARAPUBLIK.ID, BENGKULU — Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terus memperkuat komitmennya dalam pelestarian ekosistem pesisir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan kepada Rifi Zulhendri atau Atuk, pegiat lingkungan di Bengkulu yang selama ini konsisten menjaga kelestarian mangrove. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel dalam mendorong konservasi sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

    Melalui program TJSL, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyediakan bantuan bibit, peralatan, serta pelatihan pembibitan mangrove guna memperluas dampak konservasi yang telah dirintis Atuk. Dukungan ini juga membuka akses kampanye pelestarian ke lebih banyak kelompok masyarakat, termasuk pelajar, komunitas lingkungan, hingga mahasiswa pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi.

    “Dukungan kami tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan pembibitan dan penanaman mangrove, kami ingin masyarakat merasakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga ekosistem pesisir,” ujar Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel.

    Hingga kini, sebanyak 2.025 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata telah ditanam di Pantai Mangrove Pulau Baai, Bengkulu. Secara estimasi, penanaman ini mampu menyerap hingga 750 ton CO₂ dalam lima tahun serta memperkuat perlindungan pesisir dari risiko abrasi dan gelombang tinggi.

    Selain aspek lingkungan, program ini mendorong terciptanya nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui kegiatan pembibitan mangrove, warga dapat memperoleh tambahan penghasilan, setiap bibit dihargai Rp1.000 dan mampu menghasilkan sekitar 100 polybag per hari. Pemberdayaan ini mendorong masyarakat untuk terlibat aktif, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi berbasis konservasi.

    Atuk, sebagai mitra binaan program, menuturkan bahwa kegiatan ini membawa perubahan besar bagi masyarakat.

    “Harapan kami sederhana, pesisir tetap hijau, laut tetap lestari, dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya. Melalui dukungan Pertamina, kegiatan mangrove ini semakin berkembang dan semakin banyak warga yang terlibat,” ungkap Atuk.

    Salah satu warga, Rivai, turut merasakan manfaat program pemberdayaan tersebut.

    “Dulu saya hanya nelayan biasa. Sekarang saya bisa membuat bibit mangrove dan mendapat tambahan penghasilan. Ini sangat membantu keluarga, sambil tetap menjaga laut kami,” ujar Rivai.

    Demi memperluas jangkauan manfaat, Atuk juga mendirikan Yayasan Kumala Raflesia Lestari sebagai pusat edukasi dan konservasi mangrove. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mendukung yayasan ini sebagai mitra kolaboratif untuk mengimplementasikan program pemberdayaan pesisir secara menyeluruh.

    Kolaborasi Pertamina dengan masyarakat pesisir Bengkulu ini selaras dengan pencapaian _Sustainable Development Goals_ (SDGs), khususnya Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan Tujuan 14 (Ekosistem Lautan). Program ini menjadi bukti bahwa pendekatan pemberdayaan yang tepat mampu menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Transformasi Pempek Tenggiri Hana dari Home Industry Jadi Eksportir

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Transformasi Pempek Tenggiri Hana dari Home Industry Jadi Eksportir

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) membuktikan bahwa pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang tepat dapat mengubah _home industry_ menjadi eksportir sekaligus memberdayakan perempuan. Pempek Tenggiri Hana, yang bergabung sebagai UMKM binaan sejak 2024 melalui kompetisi UMK Academy, kini tidak hanya melayani pasar lokal tetapi rutin mengirim produk 2-3 kali per bulan ke Singapura, negara tempat bisnis ini pertama kali dimulai.

    Farhana, pemilik Pempek Tenggiri Hana, memulai usaha di Singapura pada akhir 2014 saat mendampingi suami. Awalnya hanya mengisi waktu luang sambil mengantar anak ke sekolah, usahanya berkembang dengan pelanggan tetap dari migran Indonesia, KBRI Singapura, hingga pekerja di Paya Lebar.

    Momen paling berkesan terjadi saat kehamilan anak keempat pada 2016, pempek menjadi penyelamat finansial keluarga hingga ia pernah menukar pempek dengan ranjang bayi. Setelah kembali ke Indonesia pada 2018, usaha sempat vakum dua tahun.

    “Saya sempat kehilangan arah setelah kembali ke Indonesia. Tapi kerinduan konsumen di Singapura membuat saya bangkit kembali di 2020. Saya mulai menitipkan produk ke toko-toko teman di sana,” ungkap Farhana.

    Titik balik terjadi saat Farhana mengikuti kompetisi UMK Academy yang diinisiasi Pertamina pada 2024 dan menjadi UMKM binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel. Dukungan mencakup standardisasi produksi, pelatihan manajemen usaha, bantuan perizinan, akses promosi melalui berbagai event, serta pembukaan jaringan pasar. Kini, Pempek Tenggiri Hana mencatat omzet Rp30-50 juta per bulan dengan margin bersih 30% dan rutin mengekspor ke Singapura.

    “Sebelum dibina Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, usaha saya masih tradisional. Setelah bergabung, saya mendapat pelatihan yang membuat bisnis jauh lebih profesional. Standardisasi menjaga kualitas, dan akses event membuat produk semakin dikenal. Sekarang saya lebih percaya diri,” ujar Farhana.

    Pempek Tenggiri Hana memproduksi 9 varian berbahan ikan tenggiri segar dengan harga Rp40 ribu hingga Rp110 ribu. Seluruh proses dilakukan dengan standar ketat, mulai dari perebusan atau penggorengan, pendinginan, pengemasan vakum, pencantuman tanggal produksi, hingga pembekuan minimal 2 hari guna memastikan kualitas tetap terjaga untuk pasar lokal maupun ekspor.

    Dampak pembinaan tidak hanya dirasakan Farhana, tetapi juga tim yang mayoritas perempuan, terdiri dari ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah. Rita, karyawan dengan suami tidak berpenghasilan, kini bisa menyekolahkan ketiga anaknya. Amel, remaja putus sekolah, berhasil mencicil motor. Wati, tim produksi, kini mencicil rumah KPR.

    “Rita, Amel, Wati adalah alasan saya terus berjuang. Melihat mereka bisa mandiri secara finansial membuat saya yakin bahwa usaha ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga memberdayakan sesama perempuan,” tutur Farhana.

    Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, transformasi Pempek Tenggiri Hana adalah bukti nyata dampak pembinaan UMKM yang berkelanjutan.

    “Ini bukti nyata pembinaan UMKM yang tepat sasaran. Yang paling membanggakan bukan hanya angka bisnis, tetapi bentuk pemberdayaan terhadap perempuan. Inilah wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang tidak hanya memberdayakan pemilik usaha, tetapi juga mengubah kehidupan tim dan keluarga mereka” ungkap Rusminto.

    Melalui program binaan Pempek Tenggiri Hana, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel turut mendukung pencapaian SDGs Tujuan 5 (Kesetaraan Gender) dan Tujuan 8 (Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak). Transformasi dari home industry yang sempat vakum menjadi eksportir beromzet puluhan juta yang memberdayakan perempuan membuktikan bahwa pembinaan UMKM yang tepat dapat membawa dampak nyata, bukan hanya bagi pemilik usaha, tetapi juga bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya.