oleh

Enam Wilayah Sumsel Masuk Zona Merah, Ini Tanggapan Ahli Mikrobiologi

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Berdasarkan laporan data di Covid-19.go.id, Selasa (13/7/2021). Beberapa daerah Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) masuk dalam kategori zona merah atau zona penyebaran tinggi. Sedangkan 11 kabupaten/kota lainnya berstatus zona oranye dengan risiko penyebaran Covid-19 sedang.

Adapun 6 daerah yang masuk zona merah yakni Palembang, Prabumulih, Lahat, Musi Banyuasin (Muba), OKU Timur, dan Ogan Ilir.

Peta zonasi risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan. Indikator-indikator yang digunakan adalah indikator epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat, dan indikator pelayanan kesehatan.

Sementara data tanggal 12 Juli 2021, terdapat 313 kasus Covid-19 di Palembang. Naik dibandingkan tanggal 11 Juli 2021 yang bertambah sebanyak 181 kasus positif. Sedangkan untuk jumlah pasien sembuh hari ini bertambah 150 orang. Sedangkan angka kasus meninggal bertambah dua orang.

Sementara Sumsel, kasus Covid-19 nyaris menyentuh angka 500 kasus yakni adanya tambahan 471 kasus positif Covid-19.

Tingginya angka penyebaran virus Covid-19 itu mendapat tanggapan serius dari
Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Dr Yuwono M Biomed.Menurutnya, pandemi Covid-19 ini merupakan musibah. Untuk itu, selain berikhtiar melakukan vaksin, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan Covid dan membasmi Covid-19

“Musibah dalam bahasa tafsir artinya yang mengenai kita, musibah itu kata-kata umum, galo-galo yang keno kito itu musibah, nak baek nak jelek menurut kito itu musibah,” kata Prof Yuwono.

“Karena tidak ada satu musibah yang menimpa di muka bumi ini dan juga menimpa kalian kecuali sudah ditentukan oleh Allah jauh sebelum bumi dan kalian diciptakan,” tambah Yuwono.

Prof Yuwono juga menegaskan, musibah Pandemi ini tentu ada hikmah terpenting yang harus dipetik. Seperi yang baik dan buruk yang menimpa kalian dan menimpa muka bumi ini, maka semua itu sudah dituliskan dalam kitab Lauhul Mahfudz yang berada di dekat Sidratul Muntaha.

“Yang menyebabkan batuk, pilek, demam dan sesak napas itu karena bakteri dan virus. Kemudian virus yang menyebabkan itu semua adalah 90 persen virus influenza. 10 persen itu oleh virus corona,” ujar Prof Yuwono.

“Jadi cuma sedikit. Nah di dalam virus corona itu ada 30 macam virus corona. Dari sebanyak ini virus yang sedang ngamuk adalah virus corona Covid-19,” ujar Prof Yuwono menjelaskan.

“Virus Corona ini pernah terjadi pada tahun 2003 sampai 2004, yaitu bentuk awal dari Covid-19, kemudian pernah terjadi tahun 2015 yang menimpa jemaah haji, setelah 5 tahun kedepan covid-19, berarti dapat disimpulkan virus ini terjadi setelah 5 sampai 10 tahun, berarti berpola,” katanya.

Kemudian Prof Yuwono memberikan kata kunci dalam mencegah Covid-19 ialah bertaqwa.
“Artinya apa? Coba perhatikan adakah di dunia ini, di alam semesta ini yang tidak teratur, poinnya teratur, maka itu pesannya dari awal saya menyampaikan untuk menghadapi apa saja termasuk menghadapi Covid-19, kata kuncinya tetap adalah Taqwa,” kata Prof Prowonono menegaskan.

Diketahui, Takwa adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkanNya, dan takut akan Allah.

“Kata Klkuncinya ialah Taqwa, Para Waliyullah, para kekasih Allah, disebutkan di Al-Quran, tidak ada ketakutan dan tidak ada bersedih, mereka itu optimis, berani, gembira dengan karunia Allah, Karena apa? karena mereka senantiasa memupuk iman dan senantiasa waspada, taqwa artinya waspada. Jadi kapan kito lah waspada nian-nian berarti kito sudah taqwa,” kata Prof Yuwono.

Kemudian Prof Yuwono memberikan contoh Taqwa dalam menghadapi Covid-19.

“Contohnya, kita harus adil dalam bersikap. Jadi di daerah yang paling rendah Covid-19, umat Ialam tetap ke masjid tapi menjaga adab dari biasanya, seperti apa ‘Cuci tangan’ yang lebih Afdol ialah Wudhu, yang kedua segala sesuatu yang di mesjid ini bersih. Ketiga siapa pun yang ke mesjid bagi orang orang sehat dulu, kalau sakit atau batuk pilek atau demem jangan ke Mesjid dulu, itu bae pembatesannya,” kata Prof Yuwono.

“Yang mesti itu, jangan sampai orang Sumsel ini keluar, dan yang keluar itu jangan masuk,” kata Prof Yuwono.

Prof Yuwono pun menjelaskan bagaimana reaksi Covid-19 ini jika sudah masuk dalam tubuh kita.

“Virus ini kalau sudah masuk ke dalam tubuh manusia, maka tidak langsung sakit. Contoh berita walikota bogor, dia positif tapi tidak sakit, 304 ribu yang positif Corona kemudian yang sakit itu 196 ribu. Artinya 120 ribunya tidak sakit (data tahun 2020),” kata Prof Yuwono.

“Artinya apa, yang sakit ini yang punya imun yang rendah, daya tahan tubuhnya lemah. Jadi kalau Virus Corona ini nempel di tubuh kito, tidak akan menyebabkan sakit kalau kita punya daya tahan tubuh yang kuat, jika daya tubuh tidak kuat maka kena ke kita, dia bukan menyebabkan kematian tetapi dia mengundang teman-temannya, yaitu bakteri yang merusak paru-paru. Dan itulah yang menyebabkan sesak nafas kemudian meninggal dunia.

Jadi yang menyebabkan itu bukan langsung dari Corona melainkan infeksi dari bakteri tersebut,” kata Prof Yuwono.

“Bagaimana cara menjaga daya tahan tubuh yang kuat? Ada tiga cara, yang pertama cukup tidur, yang kedua cukup makan, yang ketigo cukup gerak,” jelasnya.

“Gerakannya seperti apa? Cukup dari mesjid ke rumah saja sudah bagus, yang penting gerak,” katanya.

“Kemudian, cara daya tahan jiwa. Karena jika tubuhnya bagus jiwanya rapuh kena juga, lemah juga. Tapi jika tubuhnya kuat jiwanya kuat, insyaAllah punya imunitas tinggi. Jiwa yang kuat itu cuma satu, jadilah orang yang bersyukur,” kata Prof Yuwono menegaskan. (Nat)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed