oleh

Corona Menggila Warga +62 Mulai Kurangi Belanja, Banyakin Saving

SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) bukan sekadar tragedi kesehatan dan kemanusiaan, pagebluk juga mempengaruhi aspek ekonomi. Ketika pandemi semakin ganas, ada kecenderungan masyarakat menahan konsumsi dan memilih menabung untuk bersiap menghadapi skenario terburuk.

Dikutip cnbc indonesia, kebetulan saat ini pandemi virus corona di Indonesia sedang ganas-ganasnya. Per 9 Juli 2021, jumlah pasien positif corona mencapai 2.455.912 orang. Bertambah 38.124 orang dari hari sebelumnya.

Kenaikan kasus positif sudah sangat terasa dalam sebulan terakhir, di selama 30 hari terakhir mana pasien baru bertambah 578.862 orang, rata-rata 19.295 orang per hari. Melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sebulan sebelumnya yaitu 158.475 orang pasien baru dengan rerata tambahan 5.283 orang setiap harinya.

Saat pandemi mengganas, masyarakat secara sadar mengurangi kegiatan di luar rumah. Apalagi sekarang sudah ada virus corona varian baru yang lebih menular. Sebisa mungkin tidak keluar rupiah adalah pilihan yang sangat masuk akal.

Contoh, masyarakat mengurangi kunjungan ke tempat perbelanjaan ritel dan lokasi wisata. Mengutip laporan Covid-19 Community Mobility Report keluaran Google, rata-rata kunjungan masyarakat ke Indonesia ke lokasi tersebut selama 30 hari terakhir adalah 6,87% di bawah normal. Sebulan sebelumnya, rata-rata tingkat kunjungan adalah 1,03% di bawah hari-hari biasa.

Seiring berkurangnya aktivitas di luar rumah, konsumsi masyarakat pun menurun. Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen melaporkan, alokasi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi atau belanja pada Juni 2021 adalah 75,5%. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 75,8%.

Di sisi lain, porsi pendapatan yang ditabung mengalami kenaikan. Pada Juni 2021, porsinya adalah 14,9%, tertinggi sejak Februari 2021
konsumsi terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Paling tinggi dialami oleh kelompok dengan pengeluaran Rp 2,1-3 juta/bulan dan Rp 3,1-4 juta/bulan yaitu 1,99 poin persentase.

Peningkatan porsi tabungan juga dialami oleh sebagian besar kelompok pengeluaran. Namun tertinggi terjadi di kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta/bulan.

Artinya bukan orang kaya yang mengalami penurunan konsumsi dan peningkatan tabungan, melainkan masyarakat berpenghasilan menengah-bawah. Berbeda dengan kelas menengah-atas, kelompok ini mengandalkan hidup dari gaji bulanan atau omzet usaha dari hari ke hari. Sementara kelompok menengah-atas punya sumber penghasilan lain misalnya investasi di pasar keuangan.

Aktivitas dan mobilitas masyarakat yang semakin terbatas akan membuat ‘dapur’ kelompok menengah-bawah terancam. Bagi karyawan, ada risiko pengurangan gaji, dirumahkan, atau menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sementara bagi yang berusaha sendiri, ada risiko penurunan omzet bahkan bisa hilang total.

Oleh karena itu, memupuk tabungan adalah pilihan yang sangat rasional. Saat kemungkinan terburuk jadi, apakah itu divonis PHK atau usaha terpaksa gulung tikar (amit-amit), maka ada dana cadangan yang bisa dipakai untuk bertahan hidup.

Perkembangan ini menjadi ancaman bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, konsumsi adalah penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB dengan kontribusi di atas 50%. Ketika masyarakat mengerem konsumsi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit untuk dipacu lebih tinggi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed